Resist The Usual

Review Captain America: Civil War (2016)

12:55:00 PM Posted by Prast , , , No comments
Bukan hanya sekedar berlabel sekuel kedua Captain America dan film ke-13 dari Marvel Cinematic Universe (MCU), Captain America: Civil War jauh lebih besar dari itu ketika dalam materi promosinya ia tidak sekedar mencoba membawa kisah sang Kapten lebih jauh lagi sebagai pembuka fase ke-3 MCU  namun menawarkan lebih banyak kehadiran pahlawan super ‘baru’ sebagai penawar kekecewaan yang mungkin sempat kamu rasakan dalam The Avengers: Age of Ultron.
Memulai segalanya sebagai awal dari fase ketiga MCU, Captain America: Civil War membuka ceritanya dengan efek  pasca insiden Sokovia di Avengers: Age of Ultron yang memaksa para pemimpin dunia terpaksa harus mengambil keputusan dengan membatasi gerak-gerik para Earth’s Mightiest Heroes yang dalam setiap misinya tidak jarang memakan korban jiwa tak bersalah dari masyarakat sipil, terakhir ketika mereka mengejar Brock Rumlow a.k.a Crossbones (Frank Grillo) di Lagos, Nigeria. Tentu saja ini kemudian menjadi situasi rumit yang harus dihadapi para punggawa Avengers, sang pemimpin, Captain America (Chris Evans) menolak menandatangani perjanjian Sokovia, sementara Iron Man (Robert Downey Jr.)  memilih untuk ikut dengan cara pemerintah. Menjadi lebih pelik ketika Steve Rogers harus menerima kenyataan bahwa sahabat baiknya, Bucky “The Winter Soldier” Barnes (Sebastian Stan) menjadi tersangka utama di balik salah satu kejadian terorisme mematikan di Vienna, Austria. Sang kapten memilih untuk memberontak dan menyelamatkan Bucky tentu saja dengan konsekuensi besar, ia harus berhadapan dengan separuh teman-teman Avengers-nya sendiri. Sementara dari kejauhan ada sosok misterius Helmut Zemo (Daniel Bruhl) yang punya agenda tersendiri.
Jika dua seri The Avengers menghadirkan konsep good vs evil dengan membawa   banyak pahlawan super melawan teror jahat dari luar macam alien atau robot cerdas, maka Captain America: Civil War mencoba tampil lebih ekstrem. Ya, ini adalah pertarungan masif ketika di dalamnya melibatkan aksi superhero vs superhero seperti yang bolak-balik diperlihatkan dalam beberapa trailler-nya termasuk salah satu yang paling menghebohkan ketika menampilkan kehadiran sosok laba-laba merah dengan konsep yang berada dalam wilayah abu-abu. Ini adalah pertandingan besar antara tim Kapten vs tim Iron Man yang ironis siapa pun siapa pun yang menang maka dunia tetap kalah. Tetapi bukan berarti Civil War menjadi Avengers 2.1 dengan hanya mengandalkan satu lusin superhero semata, ini tetap adalah film sang Kapten dan ia tetap menjadi hati dan jiwanya.
Kita tahu Steve Rogers mungkin adalah manusia dengan kebaikan hati begitu besar dan di sini sekali lagi, seperti di dua seri pendahulunya ia kembali harus mengambil sebuah keputusan sulit di situasi yang pelik. Membawa kembali sosok Bucky setelah peristiwa di The Winter Soldier adalah langkah tepat. Bucky jelas menjadi sangat personal buat Steve Rogers, ia tidak hanya sahabat namun juga satu-satunya bagian dari masa lalunya yang masih ada apalagi di sini sang pujaan hati. Peggy Carter dikisahkan telah tutup usia. Jadi melindungi Bucky yang notabene adalah buronan paling dicari adalah sebuah keharusan bagi Steve Rogers.
Tentu saja dibutuhkan alasan kuat mengapa dua kubu superhero harus terpecah dan saling baku hantam. Sepintas mungkin yang terlihat terkesan sederhana, semata-mata hanya ada Captain America yang melindungi teman sekaligus musuh dan saya senang ternyata duo penulis naskahnya, Christopher Markus dan Stephen McFeely tidak menggampangkannya begitu saja. Benturan ideologi berbeda antara tim Kapten dan tim Iron Man dihadirkan dengan alasan yang kuat dan juga rumit. Di satu sisi Steve Rogers tidak ingin aksi kemanusiaan mereka dibatasi yang berarti ia tidak bisa beraksi setiap saat tanpa persetujuan pemerintah, baginya jatuhnya korban sipil dalam sebuah peperangan melawan kejahatan itu memang tidak bisa dihindarkan. Sementara Tony Stark menyetujui langkah pemerintah dan pemimpin dunia untuk membatasi aksi mereka pasca kejadian di Sovokia yang merenggut banyak jiwa tak berdosa ini diperkuat dalam sebuah adegan di mana Stark bertemu dengan ibu dari salah satu korban Sovokia yang menyalahkan aksi heroiknya di Age of Ultron lalu. Tidak ada yang bisa disalahkan dari keduanya, keduanya punya alasan mereka masing-masing yang membuat momen pembukaan Civil War menjadi kuat. Argumen moral tentang perbedaan dalam menyingkapi collateral damage kemudian berujung konflik horizontal kemudian menjadi tak terelakkan. Hubungan antara Steve dan Tony benar-benar mendapat ujian berat di sini, penonton akan disuguhkan sebuah  bromance antara Rogers dan Bucky sementar di tempat lain juga menjadi saksi pertentangan batin Tony Stark dengan segala masa lalu tentang nasib kedua orang tuanya.
Ya, Civil War memang punya konsep menarik ketika menawarkan benturan internal antara sesama superhero dengan segala motifnya, tetapi kalau mau jujur, dari segi penceritaan ia hanya sedikit lebih baik dari Age of Ultron dan masih jauh berada di bawah salah satu seri terbaik MCU; Captain America: The Winter Soldier yang begitu intens dan solid. Setelah first act yang cukup kuat Civil War kehilangan konsistensi dalam upayanya penceritaannya dan kemudian menderita banyak di sepertiga akhir yang kebanting telak setelah momentum puncak dalam pertarungan luar biasa di landasan pesawat terbang meski harus diakui juga itu sebuah akhir yang cukup emosional. Ya, beberapa kejutan berupa kemunculan para anggota baru Avengers macam Black Panther (Chadwick Boseman) dan yang paling ditunggu, Spider-Man (Tom Holland) sedikit banyak mampu membiaskan kondisi plotnya yang agak kacau termasuk kehadiran villain misterius Helmut Zemo  yang dimainkan Daniel Bruhl yang sayangnya berakhir dengan motif terlalu simpel.
Berbicara soal adegan di airport tadi, Civil War di bawah arahan Anthony Russo dan Joe Russo yang kembali dipercaya setelah pekerjaan bagus mereka di The Winter Soldier sukses menghadirkan sekuen pertarungan terbaik sejauh ini dalam sejarah adaptasi superhero layar lebar. Setiap set-pieces dihadirkan duo Russo dengan fantastis, humor, aksi dan spesial efek melebur menjadi sebuah kesatuan kesenangan yang diharapkan tidak pernah berakhir, setiap karakter yang terlibat mendapatkan sinarnya masing-masing. Melihat bagaimana Spider-Man “baru” bergabung dengan penuh gaya menghajar Falcon dan Bucky itu tak terlukiskan dengan kata-kata, terkaman garang Black Panther memberi asupan segar sampai puncaknya aksi Ant-Man bersama kejutan besar jelas adalah mimpi basah yang akhirnya benar-benar terwujud tidak hanya buat para penggemar komik namun siapa saja yang mencintai film superhero. Tidak diragukan lagi, momen itu akan selalu dikenang oleh peontonnya selama bertahun-tahun kemudian.
Spider-Man jelas adalah salah satu daya tarik terbesar buat Civil War setelah Marvel menegaskan rumor yang beredar dalam sebuah trailer yang sempat menghebohkan beberapa bulan sebelum filmnya dirilis. Menariknya, Civil War bukan sekedar ajang come back sekelebatan buat Spidey untuk sekedar mencuri perisai si Kapten setelah Sony memutuskan untuk sekali lagi me-reboot salah satu franchise favoritnya itu namun menjadi luar biasa ketika duo Russo memberi porsi cerita tersendiri buat Peter Parker baru dalam wujud Tom Holland dengan segala pesona bocah ABG yang luar biasa cerewet bersama kehadiran bibi May yang ehmm….jauh lebih cant, eh, muda. Tetapi tidak hanya Spidey yang mendapatkan kesempatan untuk tampil debut, T’Challa a.k.a Black Panther yang dimainkan Chadwick Boseman pun turut mencuri perhatian bersama kemunculannya yang elegan. Popularitasnya yang harus diakui masih kalah dengan Spider-Man malah menghadirkan sisi misterius tersendiri yang membuat penonton awam tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, apalagi ia mampu tampil mengesankan di sini dengan kostum keren dan adegan aksi yang memukau.
Rating
8,5/10
Sumber : MOVIENTHUSIAST





0 comments:

Post a Comment